06 Februari 2009

Disconnected ...

Seorang senior bertanya kepadaku “2 buah bohlam mempunyai daya masing-masing 5 watt dan 100 watt. Bohlam 5 watt menyala terus selama 10 menit (dengan isyarat berupa jari-jari tangan kanan yang membuka terus), sedangkan bohlam 100 watt mati padam berulang-ulang juga selama 10 menit (dengan isyarat jari-jari tangan kiri terbuka dan tertutup). Kemudian pertanyaannya, bohlam manakah yang paling banyak menggunakan energy listrik?

Kasus ini aku jumpai ketika aku baru saja menjadi seorang mahasiswa. Dengan akal dangkalku, aku menjawab bohlam 100 watt menggunakan energy listrik paling banyak. Secara, dalam fisika, energy listrik dihitung dari daya listrik dikalikan dengan lama waktu yang digunakan. “Mati padam berulang-ulang” dalam waktu 10 menit. Artinya, setelah dikalkulasi dengan mengabaikan berapa kali ia “mati” dan berapa kali ia “padam”, masing-masingnya memakan waktu selama 5 menit. Abis itu kalikan 5 menit (tentu saja setelah dikonversi ke detik) dengan daya lampu 100 watt. Pasti dapat hasilnya. Trus, nyalanya kapan? Berapa lama?

Tentu saja jawabanku salah. Aku terlalu focus pada isyarat tangan yang membuka dan menutup seakan berarti menyala dan padam berulang-ulang, sementara konteksnya mati padam berulang-ulang. Coba, dimana letak bedanya antara mati dan padam?

Kasus kedua

Aku punya seorang teman, namanya Cia. Pernah suatu ketika aku ke pondokannya. Saat lagi duduk cerita, aku menoleh padanya. Aku memegang dagu sambil berkata

“kenapa jidatmu?”

Spontan dia ikut memegang dagunya lalu bertanya balik

“kenapa?”

Aku diam saja, seperti yang aku inginkan. Beberapa saat kemudian dia baru tersadar, tertawa. Sadar kalau jidatnya pindah ke dagu, bukanlah. Sadar kalau yang aku tanyakan sebelumnya adalah jidat bukan dagu. Sementara aku memegang dagu, dia ikut-ikut memegang dagu.

Matanya melihat aku memegang dagu, telinganya mendengar aku bertanya tentang jidat. Tangannya mengikuti petunjuk mata, otaknya menerima sinyal dari telinga, mengaminkan kalo yang dipegang tangan sudah benar adalah jidat. Lho?

Kasus lain

Aku memberi tes pada mahasiswa baru yang datang melapor (seperti aku dulu, dengan kasus bohlam). Kemudian aku menggambar sebuah garis lurus dengan arah Utara diujung satunya dan Selatan diujung lain. Setelah itu aku bertanya, sebuah kereta listrik bergerak dari utara ke selatan dengan kecepatan 80 km/jam. Kereta itu memuat penumpang sebanyak 120 orang. Setelah berjalan selama 1 jam, tiba-tiba angin kencang bertiup ke arah yang sama dengan arah kereta. Kecepatan angin 90 km/jam. Pertanyannya, kearah manakah asap kereta tersebut? (soal seperti ini aku dapatkan ketika masih SMA)

Rata-rata mereka menjawab bahwa asap kereta bertiup ke arah Selatan dengan kecepatan 10 km/jam (dari 90 km/jam – 80 km/jam). Padahal kan salah. Mereka menjawab persis seperti aku menjawab pertanyaan bohlam dari seniorku ketika aku yang masih maba.

Lagi-lagi kecolongan. Mata menginformasikan kalau kereta dan angin bergerak ke arah yang sama. Dari gambar, mata cukup sukses mengaburkan otak tentang pendengaran telinga bahwa kereta ini adalah kereta listrik, bukan kereta api. Telinga cukup puas menangkap 80 km/jam kecepatan kereta dan 90 km/jam kecepatan angin. Otak langsung tanggap bahwa “asap” kereta ke arah selatan.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Beberapa kejadian seperti ini kelihatannya sepele namun cukup untuk menghibur diri, cukup menggelitik, dan aku berkesimpulan sendiri bahwa:

Seringkali terjadi miskomunikasi antara indra pelihat, indra pendengar, otak dan alat gerak. Mungkin inilah yang orang pintar sebut sebagai gerak reflex.

Pada umumnya orang pertama kali percaya pada apa yang dia lihat, kemudian apa yang dia dengar, selanjutnya apa yang dia pikirkan.

Pertanyaan selanjutnya, misalnya kamu punya nenek yang umurnya sudah 80 tahun. Badannya sudah tidak bisa tegap lagi, sudah bungkuk sangat, kalau berjalan pakai tongkat dengan satu tangan memegang punggung, kacamatanya sudah setebal pantat botol. Coba bayangkan bagaimana caranya nenek kamu itu tidur?

Read More......

13 Januari 2009

D I L E M A T I S

BOYCOTT ISRAEL CAMPAIGN
(Products and Affiliated Companies)

Sore tadi, saat lagi jalan-jalan sore, sempat aku melihat selebaran yang di tempel pada tiang listrik. Awalnya tidak kedulikan, tapi kemudian aku tertarik, perhatikan selanjutnya aku ambil selembar. Kubaca dan kuperhatikan, jadilah apa yang aku tuliskan berikut ini ...

Selebarannya berupa kertas putih ukuran legal, fotocopian. Ada sekitar 52 merek logo dari berbagai trade mark ternama. Mulai dari produk untuk bayi sampai produk orang tua. Dari produk yang berhubungan dengan kotoran sampai yang berhubungan dengan orang banyak.

Dari 52 merek, beberapa diantaranya sudah akrab dengan generasi sekarang. Bahkan terkadang dijadikan ukuran modernitas seseorang. Saban pagi sampai malam terus nampang di kotak kaca bernama TELEVISI. Orang yang menempelnya punya satu pesan yang ingin disampaikan yaitu BOIKOT. Boikot semua produk-produk yang ada hubungannya dengan Zionis.

BOIKOT BOIKOT BOIKOT

Masalahnya sekarang adalah sejauh mana boikot kita terhadap produk ini? Atau sejauh mana efektifitas boikot campaign ini? Apakah sekedar tidak membeli bahan-bahan ini sedari sekarang atau tidak menggunakan barang-barang ini dari sekarang? Tidak mengkonsumsi barang-barang itu?

Jika betul, what we have done?


Salah satu alasan kenapa barang-barang jenis ini banyak beredar dan dikonsumsi oleh generasi kita adalah karena selera konsumerisme kita yang keterlaluan dan olehnya itu kita dikenal sebagai pangsa pasar yang baik. Setelah dipermanis dengan aroma western yang membawa kesan modern. Jadinya anak muda lebih akrab dengan Mc. D yang menyajikan segenggan nasi putih plus sepotong ayam garing dan segelas Coca Cola dibanding warung pojok yang menyajikan Gado-gado yang punya nasi, sayuran, tempe dan telor. Anak muda lebih senang minuman berkarbonasi hitam atau merah dibanding Sirup Markisa atau Jus Jeruk. Biar gaul, biar modern katanya.

Alasan lain tentunya adalah karena kita tak punya pilihan. Kalaupun ada maka pilihannya terbatas. Salah satu contoh merek dagang yang ada dalam brosur adalah NOKIA. Siapa yang tak kenal? Siapa yang tak gunakan? Dari kalangan bocah ingusan sampai kakek uzur bau tanah sudah bersentuhan dengan yang satu ini. Kalau diboikot, artinya tidak kita gunakan. Adakah alternatif, kalaupun ada, dari segi kalitas, samakah? Kalaupun ada, adakah yang kita punya, yang kita buat sendiri dari tangan-tangan anak-anak bangsa?

Sepertinya kita sibuk dengan urusan korupsi, demo, bencana alam dan kampanye politik sampai tak sempat membuat yang seperti itu.

Mungkin kita punya jenis sirup markisa dari malino, dodol dari garut, coto makassar, gado-gado dan sebagainya, namun apakah mampu memenuhi nafsu ingin modern, gengsi dan gaul anak muda sekarang? Adakah kita membuat minuman jenis ”cream soda” yang bisa menandingi Coca Cola. Dari segi rasa, kemasan dan kelas? Kalau sudah ada, maka bolehlah sekiranya memboikot minuman merek Coca cola dengan tantangan berupa mengubah citra dan selera masyarakat. Bukan kerjaan mudah khan?

Terkadang menggelitik, waktu diskusi lepas tentang perihal rencana pemboikotan ini, mungkin tanpa sadar kita menggunakan atau mengkonsumsi barang yang masuk dalam daftar boikot. Rapat membahas pemboikotan dalam ruangan sambil minum-minum Coca Cola, mengundang kawan rapat lewat sms (hapenya Nokia), abis itu draftnya diketik di komputer yang berlabel Intel Inside TITANIUM (Lho, barang-barang ini khan ada dalam daftar boikot).

Bagaimana kita memboikot jika kita tak bisa melepaskan diri dari apa yang ingin kita boikot? Kita berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Seperti dilematisnya ketika rokok diharamkan (tentang cukainya yang nilainya triliunan, tentang pekerja industri rokok yang terancam PHK yang jumlahnya lebih dari cukup), sedikit banyak hal yang sama akan berlaku semisal pemboikotan merek sejenis coca-cola berujung pada penutupan pabriknya di negara kita. PHK (karyawan pribumi dan nonpribumi) mengintai, pasti. Jadinya masalah sosial bertambah. Kecuali jika pemerintah siap untuk semua itu.

Mungkin. Mungkin ada cara lain selain memboikot. Maybe.

Read More......

10 Januari 2009

Mumpung musim PEMILUan

Mumpung musim Pemiluan, aku menawarkan sebuah Partai baru. Partai yang berbeda dengan partai lainnya. Partai yang hadir karena maraknya aksi tawuran mahasiswa dengan mahasiswa atau mahasiswa dengan polisi beberapa waktu lalu.

Bukan untuk mewadahi tawuran atau menjadi Partai penyelenggara tawuran. Aku menawarkan sebuah Partai yang akan memberikan solusi pada berbagai persoalan negeri. Khususnya yang berbau "rusuh". Tawuran misalnya, tak ada kata lain selain singkirkan perusuh. Hilangkan sampai bau-baunya. Pastinya perusuh disini adalah para mahasiswa yang mengusung idealismenya. Para buruh yang PHK atau tak kebagian pesangon.

Demonstrasi adalah cikal bakal kerusuhan. Tak ada demonstrasi, tak ada kerusuhan. Tak ada kemacetan jalan, tak ada bakar-bakar ban. Tak ada belas kasihan. Dengan senapan, bedil, pelor dan pentungan, semua pasti beres.

Tapi, masalahnya sekarang adalah partai ini tidak sempat didaftarkan pada KPU. Soalnya aku tidak sepulau dengan Kantor KPU.

Oh ya, lambang partainya seperti ini nih :


Lagi butuh kader, bukan yang pintar atau cerdas atau intelek tapi yang lengannya kuat biar bisa tarik pelatuk dan angkat pentungan, yang kakinya kuat biar bisa nendang perusuh. Mau ??? Mau ??? Mau ???


CULIK PERUSUH ....... NGERI NGGAK !!!
HABISI PERUSUH ....... NGERI NGGAK !!!
..................................... NGERI NGGAK !!!

(Tribute to my friends thanks idenya)

Read More......

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP